Senin, 16 Juni 2014

Senja Itu ...


Matahari memang tampaknya ganas. Seharian itu sinarnya tak terhalangi awan sedikitpun. Hingga senja pun matahari itu tampaknya enggan terbenam. Menuju jalan pulang aku akan melalui jembatan panjang dengan menghadap ke arah matahari itu. Awalnya aku sempat kesal, itu sangat mengganggu. Namun semakin jauh aku melintasi jembatan, matahari itupun redup terhalang ranting pohon. Nah,, saat itu aku terpukau. Sinarnya menyusup dicelah-celah ranting pohon. Jalanan yang awalnya terasa padat menyesakkan terasa begitu tenang. Yah, pantas saja,, orang-orang pada belok kiri pulang melewati jalan pintas. Matahari itu masih memukau. Cahayanya kemudian membentuk garis garis yang tak dapat dilukiskan oleh tangan manusia, benarlah itu luar biasa. Ehh tiba-tiba ada yang mencet klackson dibelakang motorku. Ternyata aku terlalu lama mengendarai motorku. Akupun agak menepi mempersilahkan kendaraan lain mendahului sambil bergumam dalam hati "apa ga ada seorangpun yang liat apa yang aku liat??" Tiba-tiba disana aku melihat seorang pria paruh baya mengendarai sepeda motor yang tampaknya hampir sebaya dengannya. Ia mengendarai motornya dengan gagah memboncengi istrinya. Aku lihat apa yang mereka bawa, sebuah karung, yang mereka pakai, yang bagaimana tampaknya baju mereka kotor karena lelah bekerja, sendal mereka lusuh dan sangat tipis nyaris seperti tak layak pakai. Begitu aku melihat mereka serba kekurangan, bukan hanya aku, mungkin setiap orang yang melihatnya akan tampak begitu. Namun Seketika aku melihat keduanya tertawa bersama, melihat langit dan garis - garis cahaya matahari bersama, kekurangan itupun sirna dan mulailah tampak kelebihan mereka. Mereka adalah pekerja yang mencari rizki dengan menempuh jalan halal, karena itu mereka tak sekejap mata menjadi org kaya, mereka itu mengenakan pakaian yang cukup tertutup meski penuh tambalan, mereka itu bahagia, mereka itu tak seperti yang saya lihat, saya tidak tahu apapun tentang mereka.. saya sama sekali tidak tahu...... sekilas 5 detik berlalu, itulah yang tampak disana. Saya melewati mereka dan meninggalkan semua apa yang namanya mengurusi orang lain. Saya tidak pernah tau itu apa, tidak pernah.. kemudian saya lanjutkan perjalanan pulang dan ternyata mereka adaalah orang kaya di kampung saya. Kebetulan baru pulang dari kebuunnya yang ada disekitar sekolah saya. Wassalam,

Kamis, 06 Februari 2014

Semester Lima



Gak terasa semester lima udah berlalu pemirsa. Gak nyangka juga rupanya udah setahun gak pernah lagi nge-post di blog ini. Udah makin tua aja ni yang nulis di blog. Udah semester lima, lima, limaa,, limaaaa.. udah dua tahun setengah kuliah, tapi masih aja berleha-leha gak jelas kemana. -_- bukannya gak jelas kemana sih sebenarnya, tapi kurang sadar aja kalo ternyata udah hampir jadi letting tua di kampus, trus juga masih kurang sadar kalau sebentar lagi akan jumpa sama seseorang yang biasanya sering disebut-sebut namanya sama kakak-kakak senior, seseorang yang kayaknya dicintai dengan sepenuh hati sama senior-senior, kalo gak salah namanya skripsi, ya SKRIPSI. Hehe,, tapi kayaknya masih agak jauh ni ke tahap skripsi, kira-kira masih ada 95 KM lagi. Jadi sekarang nikmati dulu dan focus sama apa yang akan datang di semester enam. Berhubung aku masih dalam perjalanan ke semester enam, jadi aku belum tau gimana keadaan disana. Sekarang aku mau ceritain keadaan di semester lima dulu sodara~~~
Hari Rabu tanggal 6 Februari, kami semua Alhamdulillah udah selesai ujian. Kayak-kayak udah lepas semua beban semester lima ini. Gak tau kenapa semester ni terasa agak sedikit kurang hiburan, makan tambah banyak, bensin lebih banyak habisnya, sering pulang siang-siang bolong kepanasan, trus juga malam-malam terasa gak enak tidur. Gak tau juga itu semua efek dari apa ya, entah efek dari tugas-tugas yang bikin keriting jari, ntah juga Karena lampu merah di bundaran mau ke kampus, ntah juga mungkin karena Global Warming. Jaman sekarang ni kebanyakan semuanya pada kurang jelas, galau.
Tiba-tiba jadi rindu suasana pas masih belajar di semester muda dulu. Bawa bekal makan siang dari rumah, bawa minum sebotol satu liter, istirahat trus solat + tidur bentar di Mushalla (hehe), nonton filem di waktu-waktu kosong sebelum masuk kelas lagi, banyaklah lain-lainnya. Rindu… :’(
Sayangnya semester lima kemarin kami engga sempat nikmati yang gitu lagi, mulai dari Mushalla yang tiba-tiba di Sulap jadi ruangan untuk sidang, jadinya kami gak bisa sholat disitu, gakbisa santai-santai sambil belajar, walaupun sebenarnya masih ada musholla satu lagi, di gedung satunya lagi, tapi entahlah hati ini rindu aja sama musholla yang di gedung A ini. Benar-benar menyedihkan pemirsa, sedih aja Mushalla yang biasanya bisa jadi tempat untuk lepas lelah sebentar, sekarang udah jadi.. ah sudahlah. Mungkin emang udah mepet ruangannya jadi terpaksa dipakai ruangan mushalla. Sebenarnya masih bisa di pake buat sholat, tapi udah sempit dan jadi tambah gelap, pengap gitu. Apapun itu, Semoga ruangannya bisa memberi manfaat untuk keperluan yang baik-baik, aamiin.
Trus lainnya, kalo dulu bisa ketawa-ketawa nonton pilem rame-rame, semester lima udah gak lagi. Jadwalnya padat, trus juga kalo ada waktu kosong palingan semua milih untuk langsung pulang kerumah masing-masing, penat di kampus. Sama sekali gak terhibur anak muda,, walaupun dirumah juga bisa nonton, tapi tetap aja nonton rame-rame itu lebih seruu,, lebih lebih lebih lagi kalo pilemnya lucu atau konyol. Ketawanya bisa sampe-sampe lupa diri, Astaghfirullah :D Pilem paporit kami yang begituan.
Disisi lain, kalo ngomongin masalah tugas juga sebenarnya salah satu yang merenggut sedikit keleluasaan di semester lima, kalo dulu-dulunya di semester muda ada banyak juga tugas, tapi kayak gak terasa aja beratnya, yaaa tapi mau gimana kan, namanya juga anak kuliahan, kalo Cuma datang, duduk, pulang, juga gak terikat ilmunya, ya tugas emang udah sewajarnya wewenang dosen yang ngasih sesuai takaran di timbangan mereka, hehe.. -____- :’]


Jadi kesimpulannya, semua itu udah berlalu dan udah jadi rangkuman singkat tentang sedikit kurangnya hiburan di semester lima, semoga kepenatan yang sempat terkurung itu bisa bebas dengan liburan lepas ujian ini. Semoga semester ke depan ini bisa lebih bagus dan terhindar dari yang namanya stress anak muda semuanya. Aamiin..  Udah gitu aja dulu,, 

kita ketemu lagi di postingan lain kali ya. makasih yang udah baca :D

Senin, 25 Februari 2013

Nyanyian Hujan

Haii.. selamat pagi/siang/sore/malam (kapan aja kalian bacanya. Hehe)
Tiba-tiba dapat inspirasi nulis dikit dari hujan yang sejak tadi malam turun gak berenti-berenti.. ngomong-ngomong tentang ujan ni ya, dia seringkali menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang, banyak kata-kata indah tentang hujan yang dirangkai orang-orang, kadang-kadang nih kalo di twitter sampe di ritwit ribuan orang. Iwaw banget tu ya, padahal cuma pake kata kunci hujan, tapi kesannya seindah aurora yang berpijar di kutub utara (caileeh), kayak postingan aku juga ni, “Nyanyian Hujan”, kesannya lebih gimanaaa gitu ya dibanding “nyanyian petir”. Ya memang sih, hujan membawa kesan-kesan tersendiri bagi setiap orang. Ada yang menikmatinya dan ada juga yang merasa kesal dengan turunnya hujan. Biasanya ni ya. semua orang itu suka ujan, bawaannya adeeeeem aja dirumah, yang ngeselinnya kadang-kadang karna hujan turun dimalam minggu (kalo aku sih enggak, malah seneng), hujan turun pas ada janjian, kerja, atau ngampus, ataaau hujan yang ngajak temen-temennya ikut bernyanyi bersama (ex: angin kencang, kilat, petir, dan kawan-kawan) cuma itu aja kayaknya yang bikin ujan jadi gak indah (itupun bagi sebagian orang). Bagi orang-orang yang suka ujan apa adanya ya pastinya mau badai tornado menghantam sekalipun ya gak masalah gitu. *ngeri*
Naaaaah, sekarang kita ngomong ke bagian utama postingan ini, nyanyian hujan. Sebelum dijelasin apa itu nyanyian hujan, ada yang udah tau gak binatang apa nyanyian hujan itu?
Satu detik……..






Dua detik………





Tiga detik……..

Yah, ga ada yang jawab. Pasti pada gak tau jawabannya. Okejeh, biar kakak kece ini saja yang menjelaskannya. [*maaf cakap* hehee (//_-)]
Nyanyian hujan itu ya, emmm…. Apa yaaa, gimana nih cara simple jelasinnya. Kakak kece pun bingung. Apa langsung aja kita masuk ke contohnya aja kali ya..
Gini, setiap hujan turun, kalo kita lagi duduk sendirian atau sama temen-temen pasti ada hal-hal yang terngiang bersama nada-nada hujan yang turun, nada-nada itu memberikan gambaran yang menjadikan khayalan masa depan dan kenangan masa lalu kita terasa lebih hidup, nyata, dan rasanya lebih “kenak” disini *nunjuk hati* (ini realita loh, fakta mantemaan), beberapa contoh diantaranya kayak di bawah nii:
-     Piwwwitt. Ngomong-ngomong masalah rindu nih, biasanya rindu yang sudah lama padam bisa hidup kembali ketika hujan turun. Bagi anak muda yang pernah / sempat punya pacar dan sekarang pacarnya udah meninggal (dihatinya), biasanya kalo ujan turun arwah mantannya itu bakal gentayangan disekitar otaknya. Hih, ngeri tuh. Kalo udah ada tanda-tanda yang begituan mending tidur aja, atau tinggalkan segera lamunan itu, daripada selanjutnya kenangan sama mantan ikutan gentayangan dan menyayat-nyayat dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Hiiiiiii ~(o.O)~ lagu ini juga biasanya terngiang-ngiang di hati para LDR_wan dan LDR_wati. Cabaya teman-teman,,, hihihihihiiihi
-         Bagi anak rantau  yang hidupnya jauh dari keluarga, biasanya hujan bikin mereka kangen kehangatan ngumpul bersama keluarga di kampung halaman, jadi teringat kalo ujan pasti orang-orang ngumpul semua dirumah, gak bisa keluar kemana-mana, nonton bareng, makan kue buatan ibu/nenek bareng-bareng, ngeteh bareng, hmmm, Karna ketika hujan turun, kenangan suara ibu, bapak, kakek, nenek, dssl (dan sodara-sodara lainnya) yang suka merepet akan berubah menjadi nyanyian indah dan syahdu, ngangenin gitu. *peluk poto keluarga*
-   Pas ujan turun, lagi duduk sendirian, tiba-tiba ngayal ada disuatu tempat yang ingin dikunjungi bersama orang yang dicintai, poto-poto, terus potonya aplod ke facebook, di like banyak orang. Wiiihhh.. atau bisa jadi khayalannya tentang nanti jadi orang sukses, pengen punya pesawat pribadi, keliling dunia, atau bisa jadi khayalan jadian sama personel suju, atau hidup seperti cerita drama korea~ *pelan-pelan mata ketutup dan akhirnya ketiduran, dan semua itu menjadi mimpi belaka* hahaha
    Kisah klasik. Biasanya waktu SMP,ngingat masa SD. waktu SMA, ningat masa SMP. waktu kuliah ingat masa SMA, dan selanjutnya masa-masa SMA akan terus melekat kuat setiap hujan turun. Jadi kangen sama teman-teman, kangen suasana sekolah, kangen tidur dikelas, kangen kabur ke kantin/toilet pas lagi jam pelajaran, kangen rebutan makanan di kantin pas jam istirahat, kangen dimarahin guru, dikejar guru, kangen nyanyi rame-rame dikelas, kangen hujan-hujanan pulang sekolah, dsb. biasanya yang dikangenin itu hal-hal yang bisa dibilang bandel yaa..
-   Ada juga yang mengenang indahnya masa kecil yang menyenangkan, pas lagi duduk sendirian ujan-ujan liat keluar jendela, tiba-tiba ada bayangan anak kecil lari-lari ditengah hujan sambil ketawa senang sama kakak-kakaknya atau teman sepermainan, bisa jadi liat selokan kebayang waktu kecil dulu kalo ujan di selokan banyak ikan, nangkap ikan rame-rame. Bahagianyaaa~
   Mengingatkan pada makanan-makanan lezat di luar sana. Biasaa kalo ujan-ujan bawaannya lapar aja,, kayaknya makanan-makanan pada nyanyi minta dibeli. (-_-!) teh, kopi, moccachino, dkk juga ikut bernyanyi bersama makanan. *tiba-tiba lapar*
Nah, itu dia teman-teman beberapa hal yang sering bernyanyi saat hujan turun (nyanyian hujan versi aku). Kalo versi kalian ada lagi gak ?



Kamis, 07 Februari 2013

anak mami itu.. (gak dibolehin kemana-mana?)



ANAK MAMI ITU…..
Siapa sih sebenarnya anak mami itu? Kenapa sih dikatain anak mami?
Okejeh. Semua orang juga tau kok anak mami itu ya sejenis anak manja gitu dong ya, apa-apa masih ditentuin orangtuanya (mau ini, mau itu, minta izin kesini, minta izin kesitu, berteman sama si ini, berteman sama si itu, de es be, de ka ka). Sebenarnya ada yang salah gak sih????? -_______-
Kenapa dikatain anak mami aja, padahal kan kadang-kadang papinya juga netapin peraturan yang sama kayak maminya. Tapi kok mami aja sih yang lebih terkenal?
*Udahlaah, papi mami stop dulu dibicarain. Sekarang mari kita luruskan persepsi kita bersama. (^-^)v
Sebagian anak-anak muda jaman sekarang ini kayak malu besar gitu kalo sampe dilabel-in anak mami sama temen-temennya yang lain. Serasa harga diri terinjak-injak, reputasi hancur, peluang untuk hidup terkubur dalam, harapan untuk dikenal sebagai anak gaul mati, berantakan, dihantui oleh jutaan ejekan, makian, dihujani anak panah, dihantam ombak, tenggelam dalam samudera dalam, diterbangkan angin topan, haaaffff *hilang arah (-_-)a okejeh, lanjut.
Sebenarnya kita semua yang lahir didunia ini adalah anak mami, anak papi juga loh. jadi apa salahnya dan kenapa harus malu ketika orang lain ngatain kita anak mami. Ya emang gitu faktanya kok.
Emang sih, yang jadi permasalahannya sekarang ini adalah sebutan anak mami yang kita dapatkan dari teman-teman lain itu karena semua hal yang kita lakuin masih aja butuh persetujuan orang tua dan keterbatasan izin yang orangtua kita berikan, ya bahasa kerennya orangtua yang over protektip gituu. Hal ini kadang-kadang menjadi bahan ejekan bagi kita, atau malah menjadi alasan teman-teman lain untuk menjauhi kita. Contohnya gini aja : teman-teman kita males ngajakin kita kemana-mana, mereka langsung menganggap kita sebagai anak mami yang gak dibolehin kemana-mana. Jadinya “GAK ASIK LOE, ANAK MAMI!!” Hal ini kadang-kadang membuat kita tertekan dan ingin menuntut kebebasan kepada orang tua, bahkan gak sedikit juga yang jadi benci sama orangtuanya. Tapi coba dong ngertiin papi-mami dulu, mereka pasti punya alasan yang cukup kenapa memperlakukan kita seperti ini. Bahkan kalo anak yang pengertian pasti memaklumi hal ini dan akan bertambah cintanya untuk papi-mami. Hihihihii
sebenarnya anak mami itu bukannya gak dibolehin kemana-mana siih, tapi ada banyak pertimbangan dari orangtuanya. Orang tua itu pasti peduli sama anaknya, ingin yang terbaik untuk anaknya, gak mau anaknya kenapa-kenapa. Nah, cara orang tua peduli kepada anaknya cenderung berbeda-beda. Hal ini juga dikarenakan pandangan orangtua terhadap anaknya masing-masing juga berbeda, termasuk pandangan yang berbeda terhadap anak laki-laki dan perempuan. Pandangan yang berbeda juga membuahkan perlakuan yang berbeda tentunya. Mungkin sebagian orangtua memang percaya sepenuhnya dan yakin anak-anaknya bisa menjaga dirinya sendiri, namun ada juga sebagian orang tua yang terlalu takut menanggung resiko jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sehingga jadi over protective gitu. Jadi ada banyak hal yang dipertimbangkan orangtua dalam mengatur gaya hidup anaknya. Dalam hal perizinan ni ya, ini dia ni yang biasanya yang menjadi pertimbangan orangtua :
SATU, kemana ,apa manfaat dan tujuan kita melakukan suatu hal tersebut
Hal ini menjadi ukuran penting nomor satu yang dipertimbangkan orangtua dalam perizinan. Biasanya point “kemana” akan kita ungkapkan tanpa ditanyakan oleh orangtua. Ketika kita minta izin ini itu, kesini kesitu, orangtua pasti menanyakan “ngapain?” atau kata-kata lain yang punya makna sama. Kalau alasan yang kita berikan tepat dan menguntungkan, pasti orangtua mulai membuka peluang untuk mengizinkan anaknya melakukan sesuatu tersebut. Tapi kalo gak jelas tujuan dan manfaatnya apa, pasti orangtua bakal geleng-geleng sampe pusingpun gak ngizinin.
Eksempel:
Ijo : buk, pak, minggu depan Jo mau ke Bali yaa...
Ibu : ngapain Jo?
Ijo : cuci mata bu..
Ayah : cuci mata pake air dikamar mandi kan bisa Jo,  gak musti ke Bali.
Ijo : !@@#@#^$$^&%^&*(*()( *sinyal gak diizinin*
DUA, dengan siapa dan dimana
Hal ini biasanya akan menjadi pertanyaan selanjutnya setelah pertanyaan “ngapain”, ketika orangtua nanyain dengan siapa, maka jawaban yang akan diterima adalah jawaban yang meyakinkan orangtua bahwa orang yang ikut bersama kita adalah orang yang bisa dipercaya dan bisa melindungi kita. Gak jarang juga tuh orangtua nanyain “berapa orang yang ikutan”, karena jumlah peserta menentukan peluang pemberian izin. Semakin besar angka yang dinyatakan, semakin besar peluang mendapatkan izin. Hehee
Selanjutnya, kata Tanya “dimana”, ini akan muncul dalam banyak versi pertanyaan, misalnya “kempingnya dimana?” “tidurnya dimana?” “makannya dimana?” dan dimana-dimana lainnya. Kalo dimananya gak jelas, gak usah ngarep banyak dapat izin buat kemana-mana.
Eksempel :
Ijo : buk, pak, Jo mau ke Bogor. Boleh ya….
Bapak : sama siapa Jo?
Ijo : anjing tetangga pak, Bleki. Tenang aja, dia kan udah pernah dilatih jadi anjing militer.
Ibu : terus kamu mau nginap dimana di Bogor?
Ijo : dirumah temennya Bleki lah, buk!
Bapak : *nelpon rumah sakit jiwa* -__________-
TIGA, menyesuaikan izin dengan kemampuan ekonomi, perilaku dan sifat kita sehari-hari
Orangtua yang perhatian sama anak-anaknya pasti paham betul sifat dan perilaku anaknya sehari-hari, apa anaknya penakut, pemberani, malas, rajin, penyabar, emosian, atau lain-lainnya. Nah, hal ini masuk kedalam pertimbangan orangtua ketika memberikan izin kepada anaknya.
Contohnya gini aja
Ijo : pak, Jo mau ke SINGAPORE, sama temen sekelas, ikutan study tour. Ntar nginapnya di Hotel. Harganya murah loh, seminggu Cuma 1 juta-an.
Bapak : iya, boleh. murah banget yaaa. Tiket pesawatnya berapaan?
Ijo : itu dia, bapak beliin pesawat dong! Jo mau nyetir pesawat sendiri nih. Biar hemat
Bapak : -________- *ngurung Ijo di kamar mandi*
Ahahahahaaa,,
Nah, itu dia sekilas gambaran pertimbangan orangtua ketika anak-anaknya minta izin ini itu. Sebagai anak yang baik hati kita harus menghargai pertimbangan-pertimbangan tersebut. Karena sayang, makanya ditimbang dulu sebelum ngizinin anaknya kemana-mana. Gak perlu alasan bohongan untuk dapatin izin kemana-mana, bisa kualat loh. Pokoknya yang penting, kejujuran yang kita bangun akan membuahkan kepercayaan disisi orangtua kita. Jadi gak usah malu kalo gak diizinin kesini kesitu, ini diatur itu diatur. Semuanya udah diporsikan sama orangtua kita, demi kebaikan kita pastinya. Udah deh, segitu aja dulu. see u